SATUKANAL.COM
Tradisi Selamatan Jumat Legi
Caption: Prosesi pelaksanaan tradisi selametan Jumat legi di Klenteng Boo Hway Bio, Mojoagung, Jombang, Kamis (19/1/2023) petang. Doc: Faiz/Satukanal.com
BERITA Jombang Kanal Highlight

Melihat Tradisi Selamatan Jumat Legi di Klenteng Boo Hway Bio Jombang

Satukanal.com, Kabupaten Jombang – Tradisi selamatan Jumat legi kerap digelar umat muslim baik di rumah maupun tempat ibadah.

Namun kali ini, tradisi adat jawa tersebut digelar kalangan Tionghoa di Klenteng Boo Hway Bio, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.

Tradisi ini tepatnya digelar pada Kamis (19/1/2023) petang. Pada sistem penanggalan Jawa, Kamis petang sudah dihitung masuk hari Jumat.

Adapun tradisi selamatan Jumat legi ini digelar di tempat persembahyangan di Klenteng Boo Hway Bio Jombang.

Tak sekadar warga Tionghoa, sebagian umat muslim juga mengikuti acara tersebut.

“Memang setiap Jumat Legi kita itu selalu ada acara selamatan. Sudah sejak tahun 70 (1970) mungkin, tradisi selamatan ini terus dilakukan tiap Jumat legi di Klenteng Boo Hway Bio ini,” ujar Kepala Yayasan Klenteng Boo Hway Bio, Reza Liem, Kamis (19/1/2023) malam.

Tidak jauh berbeda dari tradisi selamatan lainnya, pada tradisi ini jemaah Klenteng yang terletak di Desa Kademangan itu juga menggunakan sesajen seperti beberapa tumpeng, nasi besek, aneka jajanan tradisional, hingga aneka buah-buahan.

Begitu tradisi selamatan hendak dimulai, sejumlah dupa yang memiliki aroma wangi dibakar. Seperti biasa, mereka melakukan selamatan layaknya selamatan yang biasa dilakukan umat muslim. Hanya saja, warga Tionghoa ini menghadap ke Altar Eyang Jugho.

Bagi sebagian warga Tionghoa setempat, Eyang Jugho dipercayai sebagai sosok guru spiritual besar yang jenazahnya dimakamkan di Pesarean Gunung Kawi, sehingga tradisi selamatan ini ditujukan untuk menghormati tradisi yang sudah dilakukan rutin oleh leluhurnya.

“Kalau cerita singkat keberadaan Altar Eyang Jugho di Klenteng ini mungkin dulunya ada warga Mojoagung yang mau pergi ke Gunung Kawi untuk melakukan selamatan. Kan warga di sini sebagian ada yang kepercayaan Jawa juga,” tutur Reza.

Namun, lanjut Reza, seseorang yang hendak ke pesarean di Gunung Kawi tersebut tak kunjung sampai karena terkendala kendaraan. Tak lama berselang, muncul inisiatif dari warga Tionghoa untuk membuat Altar Eyang Jugho yang ditempatkan di Klenteng Boo Hway Bio.

“Jadi kita di sini membaur lah ya, jadi kepercayaan Jawa, kepercayaan Cina, kita tetap memegang kedua tradisi itu. Karena di sini kita juga masih hidup di tanah Jawa, jadi masih memegang tradisi-tradisi seperti itu,” jelas pria yang kini mengijak usia 30 tahun ini.

Begitu acara selamatan usai, para jemaah lantas menggelar makan bersama. Dalam meja makan tersebut, tersaji nasi tumpeng aneka lauk. Di samping itu juga terdapat beberapa warna-warni jajanan tradisional.

Pewarta: Faiz
Editor: U Hadi

Kanal Terkait

Satukanal.com